#BUKUCIAMIK: RONGGENG DUKUH PARUK
Angjay.
Setelah lama membisu, akhirnya ada juga yang mendorong gue untuk bersua kembali di blog yang nampak seperti tak bertuan ini... WQWQ
Kali ini gue ingin mencurahkan isi hati setelah selesai membaca sebongkah buku yang lama cuma numpuk di rak gue.... yayayayaa seperti yang udah gue tulis sebelumnya. Membeli beda lagi dengan membaca hehehe. Beli aja dulu, baca belakangan *JELAS INI KELIRU YA DIK DIK...
HA BACOT!
Jadi gini, gue mengalami hal yang boro-boro hepi kelar baca ini buku, yang ada perasaan gue jadi dihantui rasa kekesalan... Ekspekstasi bisa lakuin Brazilian dance setelah kelar baca jadi sirna karena ternyata emosi gue dipermainkan lewat ini buku. Gue gak mut!
Kelar baca respons gue malah:
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!""
"ANJ****INGGGGG!!! BANG**KEEEEEEE!!!"
"KENAPA GINI SIH??!!!!!! GUE BENCIK SEMUA ORANG"
"LAGE LAGE KORBANNYA PEREMPUAN AAAAAAAAAAA"
Gue kayak lagi mengalami fase hangover kelar baca ini buku. Pikiran gue dibayang-bayangi sama sosok Srintil, Rasus, Bajus, Nyai Kartareja..... NAHH UDAH TAU YA GUE BACA BUKU APA?!
Bagi pecinta karya-karya klasik sastra Indonesia pasti ga asing sama nama-nama karakter yang barusan gue tulis. Gue baru aja selesai baca buku "Ronggeng Dukuh Paruk" karya penulis apik dan epic yakni Ahmad Tohari.
Hueeeeeee.... bahkan gue gatau harus mulai mengeluh dari mana.... *padahal dari tadi udah ngeluh*
Supaya kekesalan setelah membaca bisa tercurahkan, jadi gue coba menoreh kekesalan itu menjadi tulisan di blog cimit tak berfaedah ini...
Cerita ini berkisah tentang Desa Dukuh Paruk beserta penghuninya. Desa mungil dan terpencil. Kalau kata khalayak pembaca, ini desa bagai tempat yang indah secara visual tapi menyedihkan secara manusiawi... miris memang.
Tempat yang terisolasi dari peradaban, terdapat kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan, di mana hidup dan mati penghuninya di atur adat yang berakar di desa kecil bernama Dukuh Paruk.
Karena tempatnya yang kecil, desa ini juga ga banyak dihuni sama manusia. Penghuninya hanya terdiri dari beberapa keluarga. Salah satu tokoh atau karakter Utama dalam cerita ini bernama Srintil dan Rasus. Anak kandung desa Dukuh Paruk. Keduanya sama-sama ditinggal mati orangtuanya yang keracunan tempe bongkrek.
Setelah itu, sebagian besar isi buku bercerita soal kehidupan warga desa Dukuh Paruk. Utamanya tentang Srintil, si Ronggeng Dukuh Paruk. Jadi Ronggeng tuh bukan cuma lu jadi penari, tapi tubuh Srintil macam udah jadi bagian milik desa, tariannya bukan cuma untuk "ditonton", tapi juga "dinikmati" bahkan "dijual". Status Srintil jadi Ronggeng sendiri ditentukan oleh desa Dukuh Paruk, sebelum Srintil bisa memilih sendiri jalan hidupnya :( jujur gue iba banget sih, Srintil bahkan gabisa memiliki "tubuhnya" sendiri....
Beda hal dengan Rasus. Rasus melihat Dukuh Paruk hidup dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan tradisi yang bikin penghuninya kehilangan kesempatan untuk menentukan nasib sendiri. Rasus punya tekad dan memilih untuk pergi. Ia memilih kehidupan berbeda, karena menurut Rasus desa terpencil itu ga akan pernah bisa berubah, desa itu akan selalu tertinggal di kubung dunianya....
Kemudian kehidupan terus berlanjut, Srintil dengan dunianya yang kecil di desa Dukuh Paruk, sementara Rasus dengan dunia di luar Dukuh Paruk..... Lanjut bacanya bikin lumayan sesek sih jujur. Rasus berhasil melangkah keluar, tapi Srintil? Dia harus nanggung beban kutukan tradisi di desa kecil itu.
Nyeseknya sampe akhir cerita ya btw. Fakkklah kata gue. Srintil bener-bener kayak ga dikasih kesempatan coy untuk memilih hidupnya sendiri. Dia korban keganasan desa Dukuh Paruk. Polosnya Srintil bikin dia dieksploitasi abis-abisan sama desa kecil ini. Dia diperalat tanpa benar-benar merasakan apa itu dicinta. AAAAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!
Gue benci banget sih, kayaknya Srintil ga pernah dipandang sebagai "manusia" :(
terus sad ending. FAQQQQQQQQ!!!!
Gue emang udah berhasil menyelesaikan buku Ronggeng Dukuh Paruk ini, tapi perasaan gue kayaknya belum bener-bener selesai wkwkwk gue kepikiran banget sama nasib Srintil. Gue tau dia emang tokoh fiksi, tapi penderitaan yang dialami kayak dekat banget. Perempuan sering kali harus menanggung konsekuensi dari keputusan yang bahkan bukan dia yang pilih.
Dahlah. Segitu aja bahas Srintilnya. Selebihnya, tulisan Bapak Ahmad Tohari ini bagus banget tjoyyy. Sangat puitis. Penggunaan kata dan kalimatnya indah banget, meskipun ceritanya amat menyedihkan ya.
Pokoknya, buku ini wajib masuk daftar bacaan yang patut dibaca. Meski kelar baca mungkin lu malah ikut sesak dan marah ngeliat nasib Srintil. HAHAHAHAHA... SUKUR!! RASAIN!! GUE GAMAU MENDERITA SENDIRI T.T




Comments
Post a Comment